Kamis, 08 Mei 2014

Ms. Word makalah tentang BK


PELAKSANAAN BK DAN DAYA DUKUNGNYA
DI SMA-K FRATERAN MALANG



LAPORAN OBSERVASI
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Bimbingan dan Konseling Perkembangan
Yang dibina oleh Drs. Widada, M.Si



oleh
Ika Nazila Wulansuci (20)
130111600057








UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING
Maret 2014




PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Bimbingan dan Konseling merupakan salah satu bidang pelayanan yang perlu dilaksanakan di dalam program pendidikan. Kebutuhan pelaksanaan bimbingan dan konseling berlatar belakang beberapa aspek, yaitu aspek psikologis, sosiologis, kultural, dan paedagogis. Kegiatan belajar dan pembelajaran merupakan salah satu kegiatan yang diberikan di sekolah, namun sesungguhnya kegiatan itu saja belum cukup memadai dalam membantu siswa mengatasi berbagai permasalahan yang dialaminya dan menyiapkan siswa terjun di masyarakat dengan berhasil. Kondisi-kondisi tersebut menjadi salah satu alasan sangatlah diperlukan adanya layanan bimbingan dan koseling di sekolah, yang secara khusus diberi tugas dan tanggung jawab untuk memberi bantuan kepada siswa dalam memecahkan berbagai masalah, baik masalah belajar, penyesuaian diri, maupun masalah-masalah pribadi, yang apabila dibiarkan akan menghambat tercapainya tujuan belajar siswa di sekolah.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana pelaksanaan program kerja Bimbingan dan Konseling dan daya dukungnya di SMA Khatolik Frateran Malang ?
2.      Apa saja kendala dalam pelaksanaan program kerja Bimbingan dan Konseling di SMA Khatolik Frateran Malang ?
C.    Tujuan
1.      Mengetahui pelaksanaan program kerja Bimbingan dan Konseling di SMA Khatolik Frateran Malang.
2.      Mengetahui kendala dalam pelaksanaan program kerja Bimbingan dan Konseling di SMA Khatolik Frateran Malang.
D.    Manfaat
Laporan observasi ini disusun dengan harapan dapat memberikan manfaat bagi khalayak umum, yaitu:
·         Bagi penyusun: Memberikan pengetahuan akan pelaksanaan pelayanan BK di sekolah.
·         Bidang akademik: Memberikan tambahan literatur bagi universitas.
·         Bagi Masyarakat: Memberikan pengetahuan mengenai pelaksanaan pelayanan BK di sekolah.

BAB II
HASIL PENELITIAN
  Lokasi observasi yang penulis gunakan untuk menunjang penelitian yaitu SMA Khatolik Frateran Malang yang beralamatkan di Jalan B. S. Riadi 55 Malang.
·         Alat dan Metode
a.       Alat
  Alat yang digunakan untuk mendukung observasi di SMA Khatolik Frateran Malang antara lain: alat tulis dan camera.
b.      Metode
  Dalam melakukan observasi ini, metode pengumpulan data yang penulis gunakan adalah metode wawancara. Dimana penulis melakukan wawancara langsung dengan Ibu Dra. Bernadette Tyas Murtiningsih sebagai guru BK d SMA Khatolik Frateran Malang.

·         Hasil Wawancara
1.      Selamat siang bu. Maaf sebelumnya bu, bila ibu berkenan kami ingin menanyakan beberapa hal tentang pelaksanaan BK di sekolah ini ?
ü  Selamat siang, iya boleh
2.      Sudah berapa lama ibu bekerja sebagai guru BK ?
ü  Saya menjadi konselor sudah 19 tahun 8 bulan, yang 1 tahun di Bandung; 14 tahun di Palembang; dan baru 6 tahun di Malang. Saya dulu mahasiswa lulusan Sanata Darma Yogyakarta Fakultas Ilmu Pendidikan jurusan kurikulum TEP. Saya bekerja sebagai guru BK karena minornya ya di BK.
3.      Didalam setiap profesi itukan selalu ada suka maupun duka, nah didalam hal ini kami ingin menanyakan kepada ibu suka dukanya menjadi guru BK itu apa saja ?
ü  Sukanya pada saat menangani siswa SMA yang umurannya lebih dewasa karena siswa SMA itu lebih mudah untuk mengeluarkan curahan hatinya, mereka sudah mengerti apa yang harus mereka lakukan dan mana yang baik atau buruk bagi mereka. Sedangkan dukanya, sering tidak direspon atau sering diremehkan karena mereka menganggap konselor itu sebagai tempat anak-anak yang bermasalah saja.
4.      Masalah apa yang pernah ibu tangani yang menurut ibu masalah tersebut berat dan sulit untuk mengatasinya ?
ü  Masalah kerjasama dengan orang tua, orang tua sering kali lebih memihak kepada anaknya dan melimpahkan kesalahan ke sekolah. Selain itu, masalah yang berat ialah ketika murid menantang atau melawan pada saat diberi arahan.
5.      Apa sajakah progam-progam yang disusun oleh BK di sekolah ini ?
ü  Program yang tersusun berpacu pada data kebutuhan BK berupa membuat data dan daftar nama siswa yang perlu dipanggil, memiliki buku angket untuk pendataan semua siswa, memantau perkembangan nilai-nilai perilaku siswa yang rawan dan siswa yang tinggal kelas, misalnya menginformasikan tentang PTN serta memfasilitasi pendaftaran SNMPTN.
6.      Apa sajakah tugas guru BK dan manfaatnya bagi siswa di sekolah ini?
ü  Tugas guru BK selain menangani siswa yang bermasalah, di sekolah ini juga melatih kemandirian siswa untuk mengambil keputusan sendiri, memberikan rekomendasi melalui angket dan pemberiannya dari awal kelas X, menginformasikan kepada orang tua jika terjadi penyelewengan oleh anaknya dengan menelpon langsung, memanggil siswa yang bermasalah sepulang sekolah dengan tujuan agar tidak mengganggu jam belajar siswa. Sekolah ini menggunakan beberapa layanan seperti layanan individu, layanan klasikal, layanan kelompok, dan layanan informasi.
ü  Manfaat yang dirasakan tidak langsung tetapi butuh proses bisa melalui psikotes, pilihan sendiri, atau orang tua. Salah satu manfaatnya bagi siswa yaitu memandirikan, yang kemandiriannya diterapkan ketika siswa membuat suatu pilihan. Contoh : penjurusan atau peminatan. Guru BK hanya memberi informasi terkait penjurusan atau peminatan dan siswa menentukan pilihannya.
7.      Jenis masalah seperti apa yang sering dialami siswa di sekolah ini dan apa faktor dari masalah tersebut ?
ü  Masalah yang sering dialami siswa disini adalah masalah keluarga, dan masalah yang sering muncul sebagian besar dari kelas XII dan kelas X. Jika di kelas XII masalahnya lebih kompleks, yaitu mereka merasa terbebani dengan masalah keluarga yang mengganggu konsentrasi belajar karena di kelas mereka memikirkan tentang ujian nasional dan sekolah sambungan dan masalah ini yang membuat mereka membutuhkan guru BK. Sedangkan di kelas X masalahnya masih umum, yaitu masalah pemilihan jurusan dan peminatan yang mempertimbangkan pilihannya sendiri dengan permintaan orang tua, disinilah peran guru BK dibutuhkan untuk membantu meluruskan dan menggiring dalam mengambil keputusan.
8.      Bagaimana fungsi BK  dan siapa saja yang terlibat dalam pelaksanaan BK di sekolah ini ?
ü  Fungsi BK di sekolah ini memang belum berjalan dengan baik, akan tetapi sudah sedikit tertata dari tahun ke tahun. Fungsi BK juga mengalami hambatan seperti miskomunikasi dengan guru mata pelajaran,  tatib, humas, dan kesiswaan. Mereka memiliki catatan masing-masing tentang siswa dan seharusnya mereka memberitahukan ke guru BK untuk memudahkan guru BK menjalankan fungsi semestinya, tetapi itu tidak berjalan dengan baik.
ü  Yang terlibat dalam pelaksanaan BK, yaitu guru mata pelajaran, guru mata pelajaran memberikan hasil belajar siswa berupa nilai dan sikap di kelas ke guru BK. Kesiswaan, kesiswaan membantu memberikan data dari tatib ke guru BK. Tatib, mencatat siswa yang terlambat diserahkan ke wakil kesiswaan dan selanjutnya ke guru BK. Yang terakhir melibatkan kepala sekolah, mengambil kebijakan atas hasil akhir guru BK.

·         Kesimpulan
Jenis program pelayanan  Bk di SMA Khatolik Frateran Malang antara lain program tahunan. Pelaksanaan layanan klasikal sudah berjalan sesuai program karena ada jam masuk kelas. Untuk jenis layanan yang lain menyesuaikan dengan situasi dan kondisi di sekolah. Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pelayanan BK adalah masih banyak siswa yang malu konsultasi/ konseling ke BK secara sukarela dan bila home visit ke rumah siswa, terhambat dengan berbagai kondisi, seperti waktu. Masih ada bapak/ibu guru, orangtua dan siswa yang beranggapan bahwa BK seperti polisi di sekolah.














Minggu, 19 Januari 2014

Dasar" BK

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Bimbingan dan konseling merupakan layanan bantuan kepada peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok, agar mampu mandiri dan berkembang secara optimal dalam bidang bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar dan bimbingan karir, melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung, berdasarkan norma-norma yang berlaku. Layanan bimbingan dan konseling diberikan oleh guru pembimbing/ guru bimbingan dan konseling (BK) yang memiliki tugas, tanggung jawab, dan wewenang dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling terhadap siswa di sekolah.
Prayitno dan Erman Amti (2004: 279) menjelaskan bahwa kegagalan yang dialami siswa dalam belajar tidak selalu disebabkan oleh faktor kebodohan atau rendahnya inteligensi. Kegagalan sering terjadi karena siswa tidak mendapatkan layanan bimbingan belajar yang memadai. Sehubungan dengan permasalahan/kesulitan belajar pada siswa maka sekolah memiliki tanggung jawab untuk membantu siswa dalam menghadapi permasalahan yang dihadapi. Salah satu usaha sekolah dalam mengatasi permasalahan belajar siswa adalah melalui layanan bimbingan belajar yang diberikan oleh guru pembimbing. Keberadaan bimbingan dan konseling di sekolah yang berperan untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam berbagai hal terutama masalah kesulitan belajar harus senantiasa mendapat perhatian yang serius agar kesulitan belajar tersebut dapat segera teratasi.
Hambatan bisa muncul dari berbagai faktor, seperti personel sekolah yang kurang memahami konsep bimbingan dan konseling, fasilitas yang kurang memadai dan kurangnya dana untuk kegiatan bimbingan dan konseling. Hambatan lain berupa belum adanya jam khusus bagi guru pembimbing untuk masuk kelas, sehingga waktu untuk melaksanakan layanan bimbingan dan konseling sangat terbatas, dan belum dilakukannya penelitian oleh guru pembimbing terkait dengan usaha peningkatan pengetahuan yang mendukung pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling. 



B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Apa saja permasalahan yang terjadi dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling di SMA Negeri 01 Tanjung Selor ?
2.      Bagaiman upaya pemecahan masalah bimbingan dan konseling yang terjadi di SMA Negeri 01 Tanjung Selor ?


C.    Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi permasalahan yang terjadi dalam  pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling di SMA Negeri 01 Tanjung Selor.

D.    Manfaat Penilitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi ilmu pengetahuan khususnya layanan bimbingan dan konseling dan dapat dijadikan dasar bagi peneliti selanjutnya.
2.      Manfaat Praktis
a.       Bagi kepala sekolah, sebagai bahan masukan untuk memberikan perhatian, pengawasan dan perbaikan berkenaan dengan penyelenggaraan layanan bimbingan dan konseling di sekolah.
b.      Bagi guru pembimbing, hasil penelitian ini menjadi bahan evaluasi diri bagi guru pembimbing berkenaan dengan kualitas layanan bimbingan dan konseling yang telah dilaksanakan dan sebagai balikan (feedback) untuk meningkatkan kinerja guru pembimbing agar lebih berkualitas.


BAB II
LANDASAN TEORI DAN PEMBAHASAN
A.    Asas Bimbingan dan Konseling
Keterlaksanaan dan keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling sangat ditentukan oleh diwujudkannya asas-asas berikut:
1)      Asas Kerahasiaan, asas bimbingan dan konseling yang menuntut dirahasiakannya data dan keterangan tentang konseli, data yang tidak boleh diketahui oleh orang lain.
2)      Asas Kesukarelaan, asas bimbingan dan konseling yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan menjalani kegiatan. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina kesukarelaan tersebut.
3)      Asas Keterbukaan, asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli bersifat terbuka dalam memberikan keterangan tentang dirinya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban mengembangkan keterbukaan konseli.
4)      Asas Kegiatan, asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan bimbingan.
5)      Asas Kemandirian, asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling, yakni: konseli diharapkan menjadi konseli yang mandiri, mampu mengambil keputusan, dan mewujudkan diri sendiri.
6)      Asas Kekinian, asas bimbingan dan konseling yang menghendaki permasalahan konseli dalam kondisinya sekarang.
7)      Asas Kedinamisan, asas bimbingan dan konseli yang menghendaki agar pelayanan konseli tidak monoton dan terus berkembang sesuai dengan kebutuhannya.
8)      Asas Keterpaduan, asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai pelayanannya saling menunjang, harmonis, dan terpadu.
9)      Asas Keahlian, asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayanan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas kaidah profesional.
10)  Asas Ahli Tangan Kasus, asas yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling dapat mengalihtangankan permasalahan konseli kepada pihak yang lebih ahli.
Dari asas-asas bimbingan dan konseling diatas, ada lima asas dari sepuluh asas diatas yang  belum terlaksana di  SMA Negeri 01 Tanjung Selor.
B.     Fungsi Bimbingan dan Konseling
1)      Fungsi Pemahaman, yaitu fungsi membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap diri dan lingkungan.
2)      Fungsi Fasilitas, memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan yang optimal, serasi, dan selaras dalam diri konseli.
3)      Fungsi Penyesuaian, fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya.
4)      Fungsi Penyaluran, fungsi dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstakurikuler, jurusan studi, memantapkan penguasaan karir yang sesuai dengan ciri-ciri kepribadiannya.
5)      Fungsi Adaptasi, fungsi yang membantu para pelaksana pendidikan untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan dengan menggunakan informasi yang memadai.
6)      Fungsi Pencegahan, fungsi yang berkaitan dengan upaya untuk mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi.
7)      Fungsi Perbaikan, fungsi untuk membantu konseli agar dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir.
8)      Fungsi Penyembuhan, fungsi yang berkaitan erat dengan pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah.
9)      Fungsi Pemeliharaan, fungsi untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi dalam dirinya.
10)  Fungsi Pengembangan, fungsi konselor untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan konseli.

C.    Prinsip-prinsip Bimbingan dan Konseling
Terdapat beberapa prinsip dasar yang dipandang sebagai fundasi atau landasan bagi pelayanan bimbingan. Prinsip-prinsip ini berasal dari konsep-konsep filosofis tentang kemanusiaan yang menjadi dasar bagi pemberian pelayanan bantuan atau bimbingan. Prinsip-prinsip itu adalah:
1)      Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua konseli. Ini berarti bimbingan diberikan kepada semua konseli, baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah, dan pendekatan lebih diutamakan teknik kelompok daripada perseorangan.
2)      Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi. Setiap konseli berbeda satu sama lainnya, dan melalui bimbingan konseli dibantu untuk memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut.
3)      Bimbingan menekankan hal yang positif. Bimbingan sebenarnya merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan kesuksesan, karena merupakan cara untuk membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri dan memberikan dorongan untuk berkembang.
4)      Bimbingan dan konseling merupakan usaha bersama. Bimbingan bukan hanya tugas atau tanggung jawab konselor, tetapi juga tugas guru-guru dan kepala Sekolah/Madrasah sesuai dengan tugas dan peran masing-masing. Mereka bekerja sebagai teamwork.
5)      Pengambilan keputusan merupakan hal yang esensial dalam bimbingan dan konseling. Kehidupan konseli diarahkan oleh tujuannya, dan bimbingan memfasilitasi konseli untuk mempertimbangkan, menyesuaikan diri, dan menyempurnakan tujuan melalui pengambilan keputusan yang tepat.
6)      Bimbingan dan konseling berlangsung dalam berbagai setting (adegan) kehidupan. Pemberian pelayanan bimbingan dapat juga dilingkungan keluarga, perusahaan/industri, lembaga pemerintah/swasta, dan masyarakat pada umumnya. Bidang pelayanan bimbingan pun bersifat multi aspek, yaitu meliputi aspek pribadi, sosial, pendidikan, dan pekerjaan.

D.    Tujuan Bimbingan dan Konseling
Secara umum tujuan pelayanan bimbingan ialah agar konseli dapat:
1)      Merencanakan kegiatan penyelesaian studi dan kehidupannya di masa yang akan datang.
2)      Mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin.
3)      Menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat serta lingkungan kerjanya.
4)      Mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi, penyesuaian dengan lingkungan pendidikan, masyarakat, maupun lingkungan kerja.


Secara khusus bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu konseli agar dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya yang meliputi aspek pribadi-sosial, belajar (akademik), dan karir.
1)      Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek pribadi-sosial konseli adalah sebagai berikut.
a.       Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
b.      Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain.
c.       Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan.
d.      Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif.
e.       Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain.
f.       Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat.
g.      Memiliki rasa tanggung jawab, yang diwujudkan dalam bentuk komitmen terhadap tugas atau kewajibannya.
h.      Memiliki kemampuan berinteraksi sosial, yang diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan, persaudaraan, atau silahturahim dengan sesama manusia.
i.        Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik baik bersifat dalam diri sendiri maupun dengan orang lain.
j.        Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif.
2)      Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek akademik adalah sebagai berikut.
a.       Memiliki kesadaran tentang potensi diri dalam aspek belajar, dan memahami berbagai hambatan yang mungkin muncul dalam proses belajar yang dialaminya.
b.      Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif, seperti kebiasaan membaca buku dan aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang diprogramkan.
c.       Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat.
d.      Memiliki keterampilan yang efektif, seperti keterampilan membaca buku dan mempersiapkan diri menghadapi ujian.
e.       Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan, seperti mengerjakan tugas-tugas, dan berusaha memperoleh informasi tentang berbagai hal dalam rangka mengembangkan wawasan yang lebih luas.

3)      Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek karir adalah sebagai berikut.
a.       Memiliki pemahaman diri yang terkait dengan pekerjaan.
b.      Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja.
c.       Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja dalam bidang pekerjaan apapun, tanpa merasa rendah diri dan sesuai norma agama.
d.      Memahami relevansi kompetensi belajar.
e.       Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir, dengan cara mengenali ciri-ciri pekerjaan dan kemampuan yang dituntut.
f.       Memiliki kemampuan nerencanakan masa depan.
g.      Dapat membentuk pola-pola karir.
h.      Mengenal keterampilan, kemampuan, dan minat.
i.        Memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil keputusan karir.

 
E.     Permasalahan dalam Layanan Bimbingan dan Konseling
Permasalahan yang terjadi dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling di SMA Negeri 01 Tanjung Selor
Adapun permasalahan dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling di SMA Negeri 1 Tanjung Selor, yaitu hanya terdapat dua (2) orang tenaga guru pembimbing untuk membimbing sekitar 433 siswa, bimbingan dan konseling tidak mendapat jam masuk kelas sehingga waktu untuk bimbingan klasikal sangat kurang, dan layanan yang diberikan umumnya hipokrit dan insidental. Selain itu, fasilitas ruangan juga kurang memadai. Hal ini dapat dilihat dari ruang bimbingan dan konseling cukup sempit, hanya terdiri dari ruang tamu dan ruang kerja guru pembimbing, tidak ada ruang bimbingan kelompok dan konseling kelompok sehingga pelaksanaan layanan bimbingan belajar disesuaikan dengan kondisi sekolah, misal di aula atau ruang kelas. Hambatan lain muncul dari siswa sendiri, yaitu tidak semua siswa mau terbuka dengan guru pembimbing, terutama siswa kelas VII yang tergolong masih baru.


BAB III
                                                                  PENUTUP       

A.    Kesimpulan
Bahwa terdapat beberapa permasalahan dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling, yakni masalah waktu, tidak adanya jam masuk ke kelas sehingga bimbingan klasikal sangat jarang terlaksana. Layanan yang diberikan bersifat hipokrit dan insidental, serta lebih banyak berfungsi dalam pengentasan masalah (kuratif) yakni guru pembimbing lebih aktif ketika terjadi permasalahan atau kesulitan pada siswa. Kurangnya kreativitas guru pembimbing dalam memberikan variasi bentuk layanan sebagai pengganti, kurangnya tatap muka dengan siswa, misalnya papan bimbingan atau leaflet. Sarana dan prasarana ruang bimbingan dan konseling kurang memadai.

B.     Saran
Bimbingan dan Konseling di sekolah sangatlah penting. Selain sebagai bantuan yang diberikan oleh guru untuk memecahkan masalah yang dihadapi peserta didik juga sebagai salah satu cara untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki oleh peserta didik itu sendiri. Diharapkan sekolah memmiliki ruangan khusus untuk pelaksanaan bimbngan dan konseling selain itu sekolah diharapkan bisa memiliki guru atau tenaga kependidikan khusus yang melaksanakan bimbingan dan konseling selain guru masing-masing kelas.
Berdasarkan pemaparan di atas maka peneliti memandang perlu diadakan suatu penelitian lebih lanjut terkait dengan permasalahan dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling di sekolah agar dapat diperoleh data yang lebih mendalam.